Kini program Magister Akuntansi FEB UB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya) telah memiliki sebuah konsentrasi baru yaitu Akuntansi Jasa Penilai. Konsentrasi ini dapat diselenggarakan berkat kerja sama antara FEB dengan MAPPI (Masyarakat Pofesi Penilai Indonesia). Program ini sendiri dibuka dengan sebuah kuliah tamu yang menghadirkan pembicara dari Kementerian Keuangan yaitu Drs. Langgeng Subur, Ak., M.B.A.,  Kepala Pusat Pembinaan Akuntansi dan Jasa Penilai (PPAJP), Kementerian Keuangan dan Ir. Hamid Yusuf, MAPPI (cert) Ketua Umum MAPPI.

Kuliah tamu yang diadakan pada hari Senin (25/3) di Aula Gedung F FEB tersebut diawali dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Brawijaya (UB) dengan MAPPI serta kerjasama antara FEB dan MAPPI. Kegiatan tersebut dihadiri oleh PR I (Pembantu Rektor I), Dr. Ir. Bambang Suharto, MS; Dekan FEB, Gugus Irianto, Ph.D., Ak; Ketua Jurusan Akuntansi, Prof. Dr. Unti Ludigdo., Ak; Sekretaris Jurusan Akuntansi, Helmy Adam, MSA., Ak., CPMA; beberapa staf jurusan dan universitas; beberapa staf PPAJP dan MAPPI; KAP (Kantor Akuntan Publik) Surabaya; MAPPI Jawa Timur; KJPP (Kantor Jasa Penilai Publik) Solo; Dosen UIN (Universitas Islam Negeri) dan UM (Universitas Malang); dan mahasiswa lebih dari 200 orang.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Drs. Langgeng Subur, Ak.,M.B.A dengan topik yang berjudul “Relevansi jasa penilai (appraisal) dalam profesi akuntansi. Menurut Beliau, jasa penilai sangatlah dibutuhkan, namun negara kita masih kekurangan profesi tersebut. Selain itu orang yang berprofesi penilai publik di Indonesia yang telah ada sekarang, mayoritas berada di daerah di Jawa. Lebih dari setengah jumlah profesi penilai publik di Indonesia berada di daerah Jakarta dan sekitarnya. “Bahkan ada sejumlah bank yang memiliki unit operasi di Papua menyatakan siap membiayai pendidikan bagi para calon penilai publik yang bersedia ditempatkan di Papua.” Ungkap Drs. Langgeng Subur, Ak.,M.B.A. Ini merupakan bukti bahwa profesi tersebut memiliki potensi yang sangat baik.

Profesi Penilai dibagi menjadi dua, yakni Penilai Publik dan Penilai Internal. Penilai Internal bekerja dalam instansi-instansi tertentu, baik milik pemerintah maupun swasta. Sementara Penilai Publik bekerja mirip dengan Akuntan Publik, hanya saja berbeda objek. Untuk menjadi penilai Publik harus melalui proses yang cukup panjang hingga mendapat izin untuk membuka KJPP. Pengguna jasa penilai adalah Pasar Modal, Perbankan, Pemerintahan, Badan Pertanahan Nasional, Dana Pensiun, Perpajakan dan Akuntansi. “Harapannya setelah ada Magister Akuntansi Jasa Penilai di FEB UB, nantinya juga akan dibuka program Strata 1 Jasa Penilai.” lanjut Beliau.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Ir. Hamid Yusuf, MAPPI (cert). Beliau memberikan topik yang berjudul “Peranan jasa penilai dalam menunjang pertumbuhan ekonomi” “Seiring perekonomian Indonesia yang terus berkembang dengan pesat, jumlah kebutuhan akan profesi jasa penilai publik juga kian meningkat”, ungkap Beliau. Pada tahun 2012, perekonomian Indonesia berada di peringkat 16 dunia. Namun menurut prediksi berbagai lembaga, pada tahun 2030 Indonesia akan berada di peringkat 7 perekonomian dunia. Peran jasa penilai di masa mendatang setidaknya akan dihadapkan pada empat bidang, yakni kompensasi tanah, pasar modal, laporan keuangan serta agunan. Keempat bidang tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sehingga profesi penilai akan semakin dibutuhkan. Maka dari itu, prospek pekerjaan bagi program Magister Akuntansi Konsentrasi Jasa Penilai di masa yang akan datang sangatlah potensial. (azm/mir)